Hati: hakikat yang hidup pasti bergerak

December 30, 2011

Penilaian Umar



Sibghah (Celupan) yang terbaik adalah Sibghah Allah (2:138)



Menjelang wafat, Umar memberikan penilaian pada keenam calon penggantinya, termasuk Ali, dengan pengenalan yang jujur dan amat terus terang.

Imam Zuhri meriwayatkan kejadian itu sebagaimana dihuraikan oleh Ibnu Abil Hadiid dalam Kitab Syarhnya
"ketika terbaring akibat lukanya, " begitu kata beliau " Umar Ibnu Khattab meminta agar keenam anggota Majlis Syura yang telah ditunjuknya dihadirkan dan memulaui musyawarah di dekatnya. Lalu beliau minta didudukkan.

Umar tersenyum. "Bersediakah kalian." tanya Umar. "Aku beritahukan tentang sifat-sifat diri kalian?"

Mereka menjawab "Ya, Sebab kau jujur jan keras. dan kau takkan memaafkan kami ataupun meringankan penilaian jika kami meminta maaf!"

"Adapun engkau hai Az Zubair," kata Umar sembari menghela nafas, "Adalah orang yang cepat terbakar amarah, sempit dada, serta penuh ambisi. Engkau seorang mukmin di saat ridha dan sekaligus seorang kafir di saat murka. Sehari sebagai manusia dan sehari sebagai syaitan.Bisa jadi aku memilihmu dan menyerahkan khilafah kepadamu, nescaya engkau akan berbuat aniaya bahkan mesti hanya pada satu mud gandum.
Fikirkanlah hai Az Zubair, jika aku memasrahkan oadanym siapa yang akan menjadi pemimpin bagi manusia pada hari engkau menjadi syaitan dan pada saat kemurkaanmu meledak? Demi Allah, Dia takkan menyerahkan urusan umat Muhammad ini kepadamu sedang dalam dirimu masih bersemayam sifat-sifat ini. "

Az Zubair tertunduk malu.

Kemudian Umar menghadap ke arah Thalhah Ibn Ubaidillah. "Apakah aku akan bicara tentangmu atau diam?' tanya Umar.

"Bicaralah. Tapi aku memang tahu sesunggunya engkau takkan bicarakan tentang kebaikanku sedikit pun!" jawab Thalhah.

"Demi Allah hai Thalhah, aku tidak mengenalmu lagi sejak hilangnya jari-jarimy di Perang Uhud. Kau dirasuki bangga diri dan sombong. Telah wafat Rasulullah dalam keadaan murka atas apa yang kau katakan sehingga turunlah ayat hijab. Hai Thalhah, apakah akan aku tambah lagi ataukah aku diam? "

Thalhah nyaris menangis. "Diamlah! Itu cukup!" Katanya teresak.

Kemudian Umar menghadap ke arah Sa'ad ABi Waqqas.

"Adapun engkau, hai Sa'ad, adalah tukang berburu, pemilik busur, anak panah dan tombak. Engkau adalah bagian dari sekumpulan kuda perang dan pasukan. Engkau seorang panglima perang yang memiliki kuku-kuku singa. Namun kau bukan khalifah! Bahkan Bani Zahrah pun takkan sanggup kau mengurusnya!"

Lalu Umar menghadap Ali ibn Abi Thalib

"Dan adapun engkau hai Ali," katanya, "Demi Allah, seandainya bukan kerana unsur kelakar dalam dirimu, nescaya engkau busa membawa mereka pada tujuan yang terang dan kebenaran yang jelas ketika engkau memimpin mereka. Sayangnya mereka takkan mahu kau bawa ke sana. Mereka takkan melakukannya"

Setelahnya, Umar menghadap ke arah Abdurrahman Ibn Auf 

"Dan engkau wahai 'Abdurrahman, seandainya setengah iman seluruh kaum Muslimin ditimbang dengan imanmu, maka imanmu lebih berat. Akan tetapi dalam dirimu terdapat kelemahan. Dan hal khilafah ini tidak akan baik jika dipegang oleh orang yang memiliki kelemahan seperti kelemahanmu!"

Abdurrahman bin Auf mengangguk-angguk dan tersenyum.

Terakhir, Umar menghadap Utsman dan memintanya mendekat.

"Sepertinya, hai Utsman," kata Umar lembut, "Quraisy akan mempercayakan urusan khilafah ini kepadamu lantaran kecintaan mereka atasmu, ya Dzun Nurain. Lalu engkau akan mempersamakan dan mengangkat Bani Umayyah serta Bani Mu'aith atas manusia dan memuliakan mereka dengan fai'. Lalu sekelompok serigala-serigala bangsa Arab akan menyerang dan membunuhmu di tempat tidurmu, Demi Allah, seandainya mereka menyerahkan khilfah kepadamu, nescaya itulah yang akan kau alami. Dan seandainya engkau menerima, nescaya itulah yang akan terjadi. "

Umar mendekatkan kepalanya ke kepala Utsman. Diusapnya ubun-ubun Ustman oenuh kasi, lalu dia berbisik di telinga Utsman, "Ingatlah ucapanku ini. Sebab ia akan terjadi"

====

Dalam dekapan ukhuwah, Allah akan menganugerahkan kepada kita sahabat-sahabat yang kadang lebih mampu menilai kita daripada diri kita sendiri. Secara peribadi, kadang kita memang bias dan menjadi tak jujur dalam mengenali diri.

Sungguh antara nikmat terbesar dalam berukhuwah adalah keberanian kita unuk menerima penilaian itu sebagai sebuah masukan. Itu sikap agung yang telah diambil oleh Az Zubair. Oleh Thalhah. Oleh Saad bin Abi Waqqas. Oleh Ali. Oleh Abdurrahman ibn Auf. dan juga oleh Ustman Ibn Affan.

Rasulullah dahulu memuji-muji mereka masing-masing dengan keutamaannya

Az-Zubair adalah Hawari Rasulullah, penjaga setia Sang Nabi.
Thalhah adalah syahid yang masih berjalan di muka bumi. Uhud adalah harinya Thalhah.
Sa'ad ibn Abi Waqqash adalah satu-satunya orang yang Rasulullah satukan ibu dan ayahnya sebagai tebusan.
Abdurrahman ibn Auf adalah dermawan tak tertandingi.
Ali ibn Abi Thalib adalah pintu kota ilmu, dan kedudukannya di sisi Rasulullah bagai Harun di sisi Musa.
Sementara Utsman ibn Affan yang kita tahu, takkan membahayakannya sesudah apa yang disumbangkannya untuk perang Tabuk, wakafnya dengan sumur Raumah, hijrahnya dua kali dan dua cahaya yang dinikahinya.

 Tetapi di hari yang prihatin itu, Umar dengan perut terluka menganga dan terus mengucurkan darah telah memberikan hal lain yang tak terkalah berharga : sebuah penilaian. 'Umar mengungkap sisi lain dan masing-masing kepribadian mereka.

Dalam dekapan ukhuwah, mereka menerima itu semua dengan lapang dada

======


Sekadar berkongsi salah satu petikan kegemaran dalam buku 'Dalam Dekapan Ukhuwah' oleh Salim A.Fillah

Selamat Hari Jumaat. Jumaat terakhir untuk 2011

:)



4 comments:

farahnur said...

akak, sangat2 terkesan. (T____T) nanti nak sharing lutut bertemu lutut ye :D

[fathiyyah] said...

Insya Allah. i love you! :)

SuFi Haraki said...

best perkgsian ni..kgsi lg ek yg baik2...jgn brhenti.: Cahaya Atas Cahaya

melatiblossoms said...

Pencerahan yang mencerahkan InsyaAllah.. luv this so much

Followers

© **FroM the inSide**, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena